Djakarta Artmosphere: Arts For Better Indonesia


Terlepas dari arti kata Djakarta sebagai sebuah nama kota, kami memaknai Djakarta lebih sebagai sebuah simbol. Sebuah simbol akan sebuah ruang yang menampung jutaan jiwa yang berasal dari beragam latar belakang baik secara geografis maupun budaya. Djakarta menjadi sebuah tempat yang tidak lagi identik dengan suku, agama atau warna kulit tertentu.
Pemilihan penggunaan ejaan lama yaitu Djakarta, yang kini menjadi Jakarta bertujuan untuk memberikan penegasan akan perbedaan dengan keseharian kehidupan Jakarta. Kami bermaksud melepaskan diri dari kesan yang sudah tertanam pada kata “Jakarta”. Sebuah kesan sebagai kota yang padat, ruwet dan melelahkan bagi para penghuninya.
Sedang kata Artmosphere adalah penggabungan dari dua buah kata, yaitu Art dan Atmosphere. Disini kami mencoba menangkap sebuah suasana berkesenian, aura dari ekspresi jiwa, rasa yang mewujudkan diri masing-masing individu yang berada dalam ruang tersebut dengan membawa identitas lokalnya, membawa rasa, perspektif, dan budaya dari tempatnya berasal ke tempat kita menghuni. Bagai sebuah bejana yang menampung beragam rasa. Jadilah ia sebagai sebuah tempat pembauran antar berbagai budaya yang beragam.

Restorasi Musik Indonesia
Belakangan isu tentang menyelamatkan musik Indonesia ramai dibicarakan dari berbagai kalangan yang aktif dalam kegiatan bermusik. Beberapa inisiatif untuk mengembangkan atau mengenalkan musik Indonesia terdahulu terhadap generasi sekarang muncul sebagai wacana yang terdengar sangat menarik.
Merilis ulang album-album klasik musisi era 60 – 70an mungkin bisa menjadi pintu untuk membuka wawasan akan kaya-nya ragam musik Indonesia. Inisiatif tersebut sudah dilakukan beberapa records label Internasional dengan cara yang profesional dengan tujuan sebagai upaya penyelamatan dan katalogisasi musik Indonesia lama.
Ironis, ketika pihak luar ikut melestarikan musik Indonesia, sedangkan beberapa pihak disini beranggapan pihak luar sedang mencari keuntungan dari musik Indonesia lama. Pertanyaannya, seberapa jauh kita menghargai musisi sendiri?
Djakarta Artmosphere sebagai media yang mengenalkan serta menyelaraskan musik Indonesia lama dengan yang sedang eksis saat ini berusaha mengingatkan kembali bahwa banyak hal belum terangkat yang kiranya dapat menginspirasi generasi sekarang demi berkembangnya musik Indonesia.
Ide untuk me-restorasi musik Indonesia adalah ajakan untuk lebih mengenal sejarah musik Indonesia, dan tentu saja merayakan keberagaman musik Indonesia.
Konsep Pagelaran Musik
Pagelaran musik terbagi atas dua panggung, panggung utama terletak di Tennis Indoor akan tampil dengan konsep kolaborasi antara musisi Indonesia lintas generasi.
Yang berbeda dari Djakarta Artmosphere tahun ini adalah kami memperkenalkan satu konsep baru bernama JOYLAND, terletak di pelataran area luar depan gedung Tennis Indoor yang menampilkan beberapa band yang sesuai dengan tema yang kami angkat, psychedelic. Beberapa band yang tampil di JOYLAND adalah, Dialog Dini Hari, White Shoes & The Couples Company, Sir Dandy, Luky Annash, The Experience Brothers.
Info: http://www.djakartartmosphere.com / @djaksphere 
Info: 

0 comments:

Post a Comment